Pasukan Pertahanan Israel melancarkan serangan baru terhadap kota bersejarah Tiro di Libanon selatan pada Selasa (9/6) dan mengeluarkan perintah evakuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk sebuah lingkungan Kristen. Langkah ini, yang diumumkan oleh juru bicara militer Avichay Adraee, didasarkan pada tuduhan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah. Perintah evakuasi tersebut menandai pertama kalinya warga sipil di kawasan Kristen secara langsung diperingatkan untuk meninggalkan rumah mereka. Tindakan ini mengindikasikan bahwa operasi Israel kemungkinan akan semakin intensif di wilayah tersebut.
Perintah Evakuasi dan Dampak Kemanusiaan
Avichay Adraee mengirimkan peringatan mendesak kepada penduduk Tiro dan sekitarnya, termasuk lingkungan Kristen, dengan menyatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel terpaksa bertindak tegas akibat pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah. Ini bukan kali pertama militer Israel menuduh kelompok tersebut beroperasi di kawasan itu, namun baru kali kedua mereka mengaku perlu menyerang area tersebut. Peringatan itu datang bersamaan dengan laporan dari Badan Berita Nasional Libanon (NNA) yang menyebutkan adanya bombardir baru terhadap kawasan perumahan sosial di kota tersebut. Tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan, sementara sejumlah orang masih dilaporkan hilang.
Korban Jiwa dan Upaya Penyelamatan
Pada Senin (8/6), otoritas Libanon melaporkan bahwa lima orang tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam sebuah serangan di Tiro. Angka-angka tersebut menambah tingginya biaya kemanusiaan dari ofensif yang berlangsung meskipun ada gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Libanon. Hizbullah sendiri tidak menandatangani perjanjian itu dan menolaknya selama pasukan Israel masih berada di tanah Libanon. Israel menegaskan bahwa penarikan dari Tiro, kota pesisir di utara zona pendudukan pasukannya, diperlukan karena pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok Syiah tersebut.
Gencatan Senjata dengan Iran dan Eskalasi Regional
Serangan di Libanon selatan ini terjadi setelah Israel dan Iran mengumumkan gencatan senjata, menyusul bentrokan langsung antara Minggu (7/6) dan Senin (8/6) setelah seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar kedua belah pihak segera menghentikan tembakan. Namun, Teheran menyatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Libanon. Gelombang serangan yang dimulai pada hari Minggu itu merupakan konfrontasi paling langsung antara kedua negara sejak gencatan senjata bulan April dan mengancam untuk menggagalkan upaya Washington untuk bernegosiasi dengan Iran serta mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Serangan Balasan dan Target Strategis
Israel menyerang target-target Iran setelah Teheran meluncurkan rudal ke wilayahnya pada akhir hari Minggu (7/6). Otoritas Iran menyatakan bahwa serangan mereka merupakan balasan atas bombardir Israel terhadap basis Hizbullah di pinggiran Beirut. Sebuah serangan Israel menghantam pabrik petrokimia di barat daya Iran yang menurut Israel digunakan untuk memproduksi rudal balistik. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah membalas dengan serangan terhadap pabrik serupa milik Israel di Haifa.
Tekanan Amerika dan Makna Perintah Evakuasi
Dalam sebuah unggahan di media sosial X pada Senin (8/6), Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran menginginkan "gencatan senjata segera" dan bahwa negosiasi akhir mengenai perdamaian sedang berlangsung, "dengan syarat bahwa ketidaktahuan atau kebodohan tidak menghalanginya." Presiden AS menambahkan bahwa blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan akhir tercapai. Seorang pejabat Israel mengatakan bahwa Trump berbicara dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Senin. Keputusan untuk memasukkan lingkungan Kristen dalam perintah evakuasi menandai eskalasi dalam operasi Israel di Libanon selatan. Sebelumnya, perintah evakuasi tidak mencakup area tersebut, namun kini IDF menyatakan bahwa Hizbullah beroperasi di sana. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas gencatan senjata dan kemungkinan konfrontasi baru. Sementara itu, tim penyelamat terus mencari orang hilang di Tiro di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk dengan setiap bombardir baru.
