The Premise News
Teknologi

Gaokao 2026: 12,9 Juta Siswa Hadapi Ujian dengan Pengawasan AI dan Blokir Perangkat Elektronik

Victória dos Santos de Sá
Gaokao 2026: 12,9 Juta Siswa Hadapi Ujian dengan Pengawasan AI dan Blokir Perangkat Elektronik Foto: Lekhaki/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

12,9 juta calon mahasiswa di China mulai mengikuti Gaokao pada Minggu, 7 Juni 2026, dalam ujian masuk perguruan tinggi yang dikenal sebagai yang paling berat di dunia. Edisi tahun ini menghadirkan peningkatan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk sistem pemantauan cerdas, pengawasan video, dan pemblokiran perangkat elektronik seperti ponsel, jam tangan pintar, serta kacamata pintar. Ujian yang menentukan akses ke pendidikan tinggi ini masih menjadi tolok ukur utama bagi sebagian besar pelajar China. Pelaksanaannya berlangsung selama beberapa hari, dengan jadwal yang berbeda-beda tergantung provinsi dan mata pelajaran yang dipilih.

Keamanan Berlapis dengan Teknologi Anti-Kecurangan

Otoritas pendidikan China telah memperluas penggunaan teknologi pemantauan dan sistem cerdas untuk mencegah kecurangan. Setiap lokasi ujian dilengkapi dengan pengawasan video, pemeriksaan ketat, serta sistem penyaringan yang mampu mendeteksi penggunaan perangkat elektronik terlarang. Kementerian Pendidikan mengonfirmasi bahwa mereka menggunakan alat-alat cerdas untuk mengidentifikasi upaya menyontek dengan peralatan berteknologi tinggi. Langkah ini merupakan respons terhadap meningkatnya kecanggihan alat curang yang mungkin digunakan peserta.

Pemblokiran Perangkat dan Pengawasan Video

Selain ponsel, jam tangan pintar dan kacamata pintar juga masuk dalam daftar barang yang dilarang keras di ruang ujian. Sistem pengawasan tidak hanya dilakukan secara manual tetapi juga melalui analisis video real-time yang didukung kecerdasan buatan. Pemerintah daerah telah menyiagakan tim teknis untuk memastikan tidak ada celah dalam sistem keamanan. Upaya ini menunjukkan komitmen otoritas untuk menjaga kredibilitas Gaokao di tengah tekanan massifikasi pendidikan.

Penurunan Jumlah Peserta: Fenomena Dua Tahun Berturut-turut

Kementerian Pendidikan China mencatat sekitar 12,9 juta pendaftar pada tahun 2026, turun sekitar 450 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Ini adalah tahun kedua berturut-turut terjadi penurunan jumlah peserta. Para analis mengaitkan fenomena ini dengan berkurangnya populasi remaja usia kuliah, meningkatnya minat pada kursus teknik dan vokasi, serta tantangan ekonomi yang ditandai dengan tingkat pengangguran pemuda usia 16–24 tahun yang berada di atas 16 persen. Sekitar 12,7 juta lulusan baru diperkirakan akan memasuki pasar kerja tahun ini.

Perubahan Pola Pikir Keluarga dan Kandidat

Para pengamat mencatat adanya perubahan bertahap dalam cara keluarga dan peserta memandang Gaokao. Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi China yang cepat telah meningkatkan nilai pendidikan tinggi dan ekspektasi terhadap kinerja remaja. Namun, di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, banyak orang tua kini lebih mementingkan keseimbangan antara prestasi akademik, kesehatan fisik, dan kesejahteraan emosional. Meski demikian, bagi jutaan siswa, Gaokao tetap menjadi tahap penentu untuk masuk universitas dan membangun prospek karier.

Kecerdasan Buatan Muncul sebagai Tema Ujian

Kecerdasan buatan tidak hanya digunakan sebagai alat pengawas, tetapi juga menjadi bagian dari materi ujian. Di Beijing, peserta diminta membuat slogan untuk kegiatan tentang AI yang ditujukan bagi lansia. Sementara di Shanghai, mereka menulis esai sepanjang 800 kata mengenai dampak teknologi terhadap transformasi dunia dan imajinasi manusia. Kehadiran tema ini mencerminkan upaya pemerintah untuk mengintegrasikan isu-isu kontemporer ke dalam sistem seleksi nasional.

Pemerintah juga menegaskan akan meningkatkan pemberantasan aktivitas ilegal terkait ujian, seperti skema penipuan, kecurangan, dan iklan menyesatkan dari layanan pendidikan. Informasi ini bersumber dari AFP, Reuters, dan RFI.

Pandangan Redaksi The Premise News: Gaokao bukan sekadar ujian masuk perguruan tinggi; ia merupakan barometer perubahan sosial dan ekonomi China. Penurunan jumlah peserta dua tahun berturut-turut menandakan bahwa pendidikan tinggi bukan lagi satu-satunya jalur menuju kesuksesan – kursus teknik dan vokasi semakin diminati seiring pasar kerja yang menyempit. Investasi besar-besaran dalam teknologi anti-kecurangan memperlihatkan ketegangan antara massifikasi ujian dan kebutuhan menjaga kredibilitasnya. Yang dipertaruhkan adalah mobilitas sosial jutaan remaja China, yang semakin tertekan antara tradisi ujian nasional dan realitas pengangguran pemuda yang tinggi. Dalam pekan-pekan mendatang, pengumuman nilai dan alokasi kursi universitas akan menunjukkan apakah edisi ini memperkuat atau mempercepat tren penurunan permintaan terhadap pendidikan tinggi konvensional. Kecerdasan buatan, yang muncul sebagai tema ujian, mungkin juga menjadi pertanda bahwa masa depan proses seleksi itu sendiri akan diubah oleh teknologi.

Apa pendapat Anda?